Rabu, 08 Desember 2010


Cangkir yang Cantik

Sepasang opa dan oma pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik "Lihat cangkir itu," kata si oma kepada suaminya. "Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat," ujar si opa.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara "Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang penjunan dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar. Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata "belum !" lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop ! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi.

Tapi orang ini berkata "belum !" Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak. Wanita itu berkata "belum !" Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya ! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku. Ia terus membakarku.

Setelah puas "menyiksaku" kini aku dibiarkan dingin. Setelah benar-benar dingin seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

Saudara, seperti inilah Allah membentuk kita. Pada saat Ia membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi Allah untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan Allah. Yak 1 : 2 - 4 berkata "Saudara-saudaraKu, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab kamu tahu bahwa UJIAN terhadap IMANMU menghasilkan KETEKUNAN. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya kamu MENJADI SEMPURNA dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." Apabila anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Allah sedang membentuk anda. Bentukan - bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai. Anda akan melihat betapa cantiknya Allah membentuk anda.

Posted by Blessed Woman at 21.27


Stop Mengeluh

Tuhan telah mengaruniakan kepada Anda sepasang lengan yang kuat untuk mengubah dunia. Masih pantaskah Anda mengeluh? Tuhan telah mengaruniakan kepada Anda kecerdasan yang memungkinkan Anda memperbaiki segala sesuatunya. Masih layakkah Anda berkeluh kesah?

Apakah semua karunia itu harus berakhir dalam kesia-siaan ketika Anda menyingkirkan beban tanggung jawab dari pundak Anda? Jangan pernah izinkan semua itu terjadi dalam hidup Anda. Jangan biarkan semua kekuatan yang Anda miliki terjungkal hanya karena Anda berkeluh kesah. Ayo, tegarkan hati Anda! Tegakkan bahu Anda! Jangan biarkan semangat hilang hanya karena tak tahu apa jawaban atas persoalan Anda.


Jangan biarkan kelelahan menghujamkan keunggulan Anda. Tarik nafas dalam-dalam. Tenangkan semua hal yang berkecamuk di dalam benak Anda. Temukanlah secercah harapan yang Tuhan telah sediakan bagi Anda. Dan mulailah melangkah kembali.

Ada orang yang sebenarnya lebih berhak untuk mengeluh bila dibandingkan dengan Anda. Sayangnya suara mereka seringkali tak terdengar karena mereka tak sempat lagi untuk mengeluh. Mereka lebih suka untuk menanggung beban hidup yang berat daripada menyesalinya. Jika demikian, apakah Anda lebih suka mengeluh daripada menjalani tantangan hidup?
Saya melihat seorang pemecah batu sedang memukul sebongkah batu padas sampai seratus kali tanpa kelihatan retak sedikitpun. Tapi pada pukulan ke seratus satu kali, batu itu pecah menjadi dua. Saya tahu bahwa bukan pukulan yang terakhir itu yang membelah batu, tapi semua pukulan yang sudah dilakukan sebelumnya.
(Jacob Riis)

Posted by Blessed Woman at 21.18


Keajaiban Kata "WOW"

Suatu sore Aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman. Aku melihat beberapa orang sedang menikmati suasana yang hangat di taman tersebut. Tak jauh di depanku ada seorang ibu bersama anaknya, seorang gadis kecil yang baru berusia tiga tahun. Gadis kecil itu memegang sebuah balon helium yang diikat pada seutas tali.

Tiba-tiba, angin berhembus cukup kencang dan membuat balon tersebut terlepas dari tangan gadis kecil itu. Segera terlintas di benakku, pasti beberapa saat lagi gadis kecil itu akan menjerit dan mulai menangis keras.

Tapi, ternyata tidak seperti yang aku duga! Gadis kecil itu berbalik untuk melihat balonnya terbang ke langit, dan dia justru berteriak dengan gembira, "Wow!"

Tanpa Aku sadari, gadis kecil itu sudah memberiku sebuah pelajaran yang sangat berharga.

Beberapa hari kemudian, Aku menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang, yang memberitahukan sebuah masalah yang tidak pernah Aku duga. Pada saat itu, Aku merasa ingin menanggapi dengan mengatakan, "Oh tidak, apa yang harus kami lakukan?" Namun Aku tiba-tiba teringat kepada gadis kecil itu dan Aku memutuskan untuk berkata, "Wow, itu sangat menarik! Bagaimana aku bisa bantumu?"

Satu hal yang pasti, hidup ini penuh dengan kejutan. Sering terjadi banyak hal buruk yang tidak kita duga sebelumnya. Tetapi hal ini tidak menentukan respon kita terhadap kejadian tersebut karena kita masih bisa memilih untuk menjadi frustasi atau kagum dengan hal tersbut.

Tidak peduli apapun situasi yang sedang Anda hadapi, sebuah keajaiban "Wow!" akan selalu mengalahkan rasa frustrasi "Oh, tidak".

Jadi pada saat Anda mengalami kejadian tak terduga dalam hidup Anda, ingatlah gadis kecil itu dan Anda bisa membuatnya menjadi sebuah keajaiban "Wow!"

Posted by Blessed Woman at 21.17


kisah si penebang pohon



Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.”

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?” “Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.

“Nah, di sinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!” perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

“Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu”
Istirahat bukan berarti berhenti.
”Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu”
Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!

Posted by Blessed Woman at 21.05


Untuk hariii ini :)

Untuk hari ini!
Saya akan berkata: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. (Filipi 4:13)

Untuk hari ini!
Saya tidak akan takut, “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban”. (2 Timotius 1:7)

Untuk hari ini!
Saya tidak kuatir akan masalah yang datang, karena “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,..”. (Roma 8:28)

Untuk hari ini!
Saya tidak akan bimbang dan kurang beriman, karena “...tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”. (Ibrani 11:6)

Untuk hari ini!
Saya tidak akan lemah, karena “TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1b)

Untuk hari ini!
Saya tidak akan kalah, karena “...dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenangan-Nya…” (2 Korintus 2:14)

Untuk hari ini!
Saya tidak akan kekurangan hikmat, karena “...apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,-yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit -, maka hal itu akan diberikan kepadanya”. (Yakobus 1:5)

Untuk hari ini!
Aku tidak merasa terhukum, karena”...sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Roma 8:1)

Untuk hari ini!
Saya tidak akan takut untuk bersaksi menceritakan nama-Nya, karena”AKU menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b)

Posted by Blessed Woman at 21.04


Jangan Menyerah

Bila situasi menjadi sulit, sebagaimana yang selalu terjadi.
Ketika jalan yang anda tempuh semuanya terasa mendaki.
Ingin tersenyum namun yang terdengar hanyalah keluh kesah.
Ketika kesusahan sedikit menekan Anda

Berhentilah sejenak jika terpaksa, tetapi jangan menyerah.
Hidup ini misteri yang penuh dengan segala tikungan dan belokan
Seperti yang kadang - kadang kita alami

Dan ketika kegagalan datang membayang, ketika dia merasa dapat menang jika sudah bersiap
Jangan menyerah meskipun hanya dapat melangkah perlahan
Anda mungkin akan berhasil dengan cara lain.

Keberhasilan adalah kegagalan yang muncul
dari dalam warna keperak-perakan dari awan keraguan
Dan anda tidak akan pernah tahu seberapa dekat
Mungkin sangat dekat ketika tampak sangat jauh,

Karena itu tetaplah berjuang saat menerima benturan yang paling keras
Jika situasi semakin sulit Jangan Menyerah

Posted by Blessed Woman at 21.03


Wawancara dengan Tuhan

Aku bermimpi melakukan wawancara dengan Tuhan.

“Masuklah,” kata Tuhan. “Jadi, Anda ingin melakukan wawancara dengan saya?”

“Jika Anda punya waktu,” jawabku.

Tuhan tersenyum dan berkata, “Waktu saya adalah kekal. Ini cukup untuk melakukan apapun. Pertanyaan apa yang ada di pikiran Anda yang ingin ditanyakan pada saya?”

Aku bertanya, “Hal apa yang paling mengejutkan Anda yang Anda temukan pada manusia?”
Tuhan berpikir sebentar dan kemudian menjawab, “Mereka bosan menjadi anak-anak dan buru-buru ingin bertumbuh dewasa, dan kemudian ingin kembali menjadi anak-anak.

Bahwa mereka mengorbankan kesehatan mereka demi menghasilkan uang dan kemudian menggunakan uang itu untuk memulihkan kesehatan mereka kembali.

Mereka begitu cemas tentang masa depan, tapi mereka lupa untuk hidup di saat ini, akhirnya mereka tidak hidup di masa kini maupun di masa depan.

Mereka hidup seolah-olah mereka tidak akan pernah mati, dan akhirnya mereka mati seperti mereka tidak pernah hidup.”

Tuhan menaruh tangan saya di atas tangannya dan kami terdiam sebentar. Kemudian aku bertanya,

“Sebagai orangtua, pelajaran hidup seperti apa yang Anda ingin agar anak-anak Anda pelajari?”
Tuhan menjawabnya sambil tersenyum, “Belajar bahwa mereka tidak bisa membuat orang lain mencintai mereka. Yang mereka bisa lakukan hanyalah membiarkan diri mereka dicintai.

Untuk belajar bahwa tidak baik membandingkan diri mereka dengan orang lain. Setiap orang akan di hakimi atas tindakannya masing-masing, bukan berdasarkan perbandingan antara satu sama lin.

Belajar bahwa orang kaya bukanlah mereka yang memiliki banyak hal, namun mereka yang memiliki kebutuhan paling sedikit.

Mereka juga harus belajar hanya membutuhkan beberapa detik untuk melukai orang yang kita cintai, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyembuhkan mereka.

Belajar untuk memaafkan dengan menerapkan pengampunan. Belajar bahwa ada orang yang sangat mencintai dirinya, namun orang itu tidak tahu bagaimana caranya untuk mengungkapkan atau menunjukkan perasaannya itu.

Belajar bahwa uang bisa membeli segalanya kecuali kebahagiaan.
Belajar bahwa dua orang dapat melihat satu hal yang sama namun memiliki dua pendapat yang jauh berbeda.

Belajar bahwa teman sejati adalah seseorang yang tahu segala sesuatu tentang hidupnya… namun tetap mengasihinya.”

Saya duduk disana sambil menikmati kunjungan saya di rumah Tuhan itu.

Lalu saya mengakhirnya dengan berterima kasih atas waktu-Nya dan atas semua yang telah Ia lakukan untuk saya dan keluarga saya.

Dia menjawab, “Tentu. Kapan saja, 24 jam saya ada disini. Yang Anda harus lakukan hanyalah bertanya pada saya dan saya akan menjawabnya.”

Posted by Blessed Woman at 20.35