Rabu, 21 Januari 2015


Blessed Marriage


"I, Kristhie, take thee, Dwi June, to be my wedded husband, to have and to hold, from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, to love and to cherish, till death do us part, according to God's holy ordinance; and thereto I pledge thee my faith/myself to you."

Janji Pernikahan yang diikrarkan dihadapan Tuhan ini menjadi dasar dalam pernikahan.
Bukan tentang seberapa hebatnya anda mengucapkannya atau seberapa banyak tamu undangan yang hadir menyaksikan pernikahan anda, tetapi tentang bagaimana anda melewati setiap waktu dalam pernikahan anda dengan tetap memegang teguh janji tersebut.
karena pernikahan adalah suatu proses. proses dimana meleburkan dua karakter yang berbeda dalam suatu rumah tangga. proses saling mengerti dan merendahkan hati satu sama lain. proses saling membangun dan mengisi karakter, terlebih-lebih proses "bangun" cinta yang tidak akan pernah ada selesainya.
Ya, seluruhnya itu adalah proses yang tidak akan mengenal waktu,
"hingga maut memisahkan, dengan bimbingan Tuhan dan karena itu saya menyerahkan jiwa raga ini untukmu"

16 November 2013 menjadi hari yang sangat berarti bagi saya. Hari yang membawa saya menuju lembaran baru kehidupan. Hari yang mengubah status saya menjadi milik pasangan hidup saya. Hari yang melelahkan hati dan pikiran saya terutama masa-masa persiapannya, namun menjadi hari yang sangat saya tunggu-tunggu dan hari bahagia dalam hidup saya.

Banyak orang bertanya-tanya, bagaimana rasanya menikah? apakah benar lebih indah dari masa pacaran? bagaimana suami mu memperlakukanmu? apakah ia berbeda dari pribadi awalnya yang kamu kenal?
Kini di 1 tahun lebih usia pernikahan kami, saya semakin mensyukuri anugrah yang Tuhan berikan dalam hidup saya. saya memiliki suami yang luar biasa mencintai saya dan juga tepat pada 15 agustus 2014 lalu buah cinta kami terlahir didunia yang semakin melengkapi kebahagiaan kami.

Selama pernikahan kami, suami saya adalah orang yang sangat menghargai saya, ia mencurahkan seluruh waktu, tenaga dan pikirannya untuk membahagiakan saya.
Semasa saya mengandung buah cinta kami, ia lebih lebih lagi memperhatikan saya. Bukan protektif yang melarang saya ini dan itu, tapi senantiasa menemani saya setiap saat. Segala apa yang bisa ia kerjakan di rumah pasti akan dikerjakan oleh nya agar saya bisa punya waktu cukup beristirahat. mungkin ia bukan tipe romantis yang bisa memberikan bunga atau surprise, tapi tindakan nya yang menghargai pasangannya lebih dari sekedar tindakan romantis. terlebih ketika saya baru saja melahirkan, ia yang turun tangan langsung mengerjakan smuanya, bahkan ia pun sangat telaten merawat dan memandikan bayi mungil kami, Bryan Otniel Dwikri Manullang. Rela bangun tiap malam ketika ia menangis, bahkan 1 minggu setelah saya melahirkan, saya diharuskan mempersiapkan segala berkas-berkas untuk keperluan CPNS, karena latar pendidikan kedinasan saya yang mengharuskan saya menjadi PNS, ia dengan setianya mendorong-dorong saya dengan kursi roda untuk tes kesehatan di RS dan Polres.

Banyak hal yang telah kami lewati sebagai suatu keluarga. dan itu semakin membuat saya semakin bersyukur Tuhan membimbing saya kepada pasangan hidup yang tepat. Ini baru sepersekian persen dari perjalanan rumah tangga kami. Tapi saya percaya suka duka dipakaiNya untuk semakin memperkuat rumah tangga kami. Banyak hal yang masih harus kami pelajari, karena kerinduan kami, keluarga kami bisa menjadi berkat bagi orang lain, dan keluarga yang diberkati bukan keluarga yang tanpa gelombang didalamnya, tapi keluarga yang tetap mengandalkan Tuhan dan memiliki cinta kasih Agape didalamnya dengan tetap setia memegang teguh janji pernikahan nya sampai maut memisahkan.

Posted by Blessed Woman at 01.15