Namanya Pelangi. Ia hidup di bumi dan karenanya ia juga memiliki pilihan-pilihan seperti makhluk bumi lainnya, manusia.
Pelangi dapat dengan bebas menaruh adiknya di atas lemari, sehingga sang adik dapat berhenti mengacaukan pembuatan makalahnya. Namun Pelangi memilih untuk bermain bersama adik kecil selama lima belas menit, lalu berkutat kembali di depan komputer.
Berbohong sedikit pastilah hal yang lumrah untuk gadis seusianya, lagipula Mama tidak akan mengerti bahwa semua gadis di dunia membutuhkan itu. Tapi Pelangi memilih mengaku pada Mama bahwa ia mengambil selembar uang berwarna biru untuk membeli parfum, walaupun ia tahu bahwa pengakuan itu berarti tidak akan ada uang saku selama tiga hari.
Setelah putus, Pelangi dapat menjalin hubungan yang lebih berani, lebih menghebohkan, untuk menunjukkan pada mantannya, pada kekasih mantannya, bahwa ia adalah salah satu gadis terkenal dan dapat dengan mudah mencari pengganti. Tapi Pelangi memilih untuk menunggu, dan menanti yang terbaik untuknya.
Selalu ada kesempatan untuk mengintip “majalah kaum dewasa” milik seorang penghuni kelasnya, namun Pelangi memilih untuk menutup mata walaupun ia penasaran juga.
Pergi ke Mall pada hari Minggu bersama teman-teman yang lama tak ditemuinya pastilah amat sangat menyenangkan, tapi Pelangi tetap memilih untuk beribadah di gereja walau ia tahu, ia akan dicap sebagai “si sok rohani”.
Pelangi tak dapat memilih di keluarga mana ia akan dilahirkan, dibesarkan. Tapi ia dapat pergi dari rumah dan bila beruntung, ia akan diasuh oleh keluarga tanpa “piring terbang”. Meskipun demikian, ternyata Pelangi memilih untuk bertahan, dan tetap berlutut dalam doanya.
Ia tidak dapat menentukan, apa yang akan terjadi esok hari, untuk hal apa lagi air matanya akan tertumpah. Ia bisa mengambil sebotol obat serangga dan meminumnya dalam sepuluh detik. Tapi ia memilih untuk berharap dan percaya pada Sang Pencipta yang menciptakan hari-hari dalam hidupnya.
Begitu banyak pilihan, sangat membingungkan. Tidak semua pilihan yang dipilih membuat Pelangi senang, tenang, puas diri. Kadang ia merasa takut, khawatir, tertuduh, benarkah ini atau itu adalah pilihan yang tepat?
Meskipun pikiran dan hati Pelangi bingung, dan semakin bingung dengan semua pandangan dan pendapat berjuta orang di sekelilingnya, tapi hidup bagi Tuhan tak pernah disesalinya. Pelangi selalu memiliki pillihan. Ia bisa saja lari, sembunyi, menolak. Tapi Pelangi memilih untuk menghadapinya. Benar-benar tak ragu sedikitpun ia, bahwa hidup bagi Tuhan yang begitu mengasihi Pelangi, adalah pilihan yang paling menyenangkan untuknya. Pilihan yang kadang sulit… Tapi sulit bukan berarti tidak mungkin kan?
Pelangi sudah memilih. Nah, bagaimana denganmu?

Begitu menyenangkan! Itulah kesan pertama yang akan pembaca dapati ketika membaca lembar-lembar awal dari buku bersampul merah dengan tinta warna emas ini. Dan lembar-lembar selanjutnya, kesan pembaca akan bertambah-tambah menjadi begitu mengagumkan, begitu patah hati, begitu menyebalkan, kemudian ,“waw! Bagaimana bisa bagian dari bab ini, bab itu dan bab selanjutnya adalah saya sekali?”
Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta adalah buku keempat Grace Suryani yang diterbitkan oleh Gloria Graffa. Dan seperti buku-buku sebelumnya, Grace tetap menggunakan bahasa yang sederhana dengan gaya “muda”. Salah satu hal yang menarik adalah ikut sertanya Steven Halim, alias suami Grace, dalam penulisan buku ini. Jadi sepasang suami istri menulis buku? Ah, bukankah itu biasa? Nanti dulu! Buku ini bukan sekedar kata-kata indah sepasang kekasih, tapi juga harapan, impian, luka, dan doa.
Kisah cinta Grace dan Halim juga adalah kisah cinta mereka dengan Tuhan. Setelah hati yang berkali-kali patah, mereka bertemu dan menjalani hubungan yang indah. Benarkah? Tidak juga! Berkenalan lewat dunia maya, pertemuan pertama di bandara, bukan awal yang sangat istimewa. Tapi hal-hal biasa inilah yang membuat mereka mengenal satu sama lain lebih dekat, dalam Tuhan.
Steven alias Tepen bukan tipe idaman Grace, pada awalnya. Namun Tuhan tidak pernah salah, demikian Ia menyatukan mereka dalam cinta-Nya. Sebelum Grace dan Tepen menjadikan buku ini sebagai suvenir pernikahan, mereka mengalami berbagai kejadian yang mereka tuliskan dengan jujur dan apa adanya. Inilah yang membuat cita rasa tersendiri dalam buku ini. Bila marah, mereka menulis kemarahannya, juga ketika sedih, kecewa, sakit hati, dan berbagai rasa manusia.
Grace menulis, “….Hati aku sakit. Sekarang lagi-lagi ini cuman sebuah impian yang mungkin harus kandas. Aku takut kecewa lagi, rasanya ada rasa nyeri di hati aku….” dan “…. Kadang aku merasa begitu cape. Begitu letih… Aku cape mencintai seseorang, dan kemudian harus meninggalkan perasaan itu. Kadang aku engga pengen jatuh cinta lagi…. Kadang aku begitu tergoda untuk menutup hatiku….”
Dalam penantian, Grace dan Tepen terombang-ambing. Mungkinkah mereka akan memiliki pasangan? Mengapa jawaban Tuhan terasa lambat?
Doa Tepen, “….Tuhan, aku ingin punya pasangan hidup… sampai sekarang rekor kehidupan cintaku jelek sekali Tuhan. Masa iya aku akan single terus? Mama bilang aku pasti menikah karena aku sudah disekolahin tinggi-tinggi. Tapi kenyataanya, semua wanita menjauhiku… Tuhan, aku ingin tahu…, aku bakal menikah ngga sih? Kalo iya, sama siapa?….”
Saat mereka kecewa, Tuhan tetap berbicara pada mereka. Mereka memiliki hari-hari penuh pengaharapan pada Tuhan, walaupun hal itu terasa sulit. Dalam buku ini, Grace juga menulis bagaimana ia menjalani hari-harinya sebagai seorang wanita dalam penantian. Bagaimana memiliki hubungan yang akrab dan mesra pada Tuhan, juga hal yang sangat penting dalam mengisi masa-masa dreaming time.
Cinta menjadi hal yang lucu dan seru dalam pena Grace dan Tepen, dengan inspirasi dari Tuhan tentunya. Maka tak heran bila mata pembaca berkaca-kaca, lalu tak lama kemudian bibir membuka dan membentuk sebuah tawa.
Grace berkata, “…. Aku… melihat… pacar aku… … memakai kaos singlet. Kreeeekkkk… praaannkkk. Bunyi retaknya suatu “bayangan” di otak aku… Hehehe. Aku bengong … Hah… retak sudah bayangan ksatria keren dengan pakaian rapi jali ala esmud (haree giniii pake “shining armor” mah, bisa dijadiin tontonan orang sekampung)….
Namun, dalam kebimbangan mereka, dalam impian yang hancur, Tuhan tetap memberikan mereka penghiburan lewat orangtua, sahabat, dan rekan-rekan mereka. Grace dan Tepen tetap memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, dan walaupun mereka memiliki impian untuk pasangan hidup, mereka tetap menyerahkan keputusannya pada Tuhan.
Buku ini bukan sekedar tumpukan kata yang mencapai 128 halaman. Buku ini sebagai pengingat Grace dan Tepen akan cinta mereka, untuk orang-orang yang dalam penantian ataupun yang sedang menjalani hubungan dengan pasangan masing-masing, serta sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang luar biasa.
Dalam tangis dan tawa, Grace dan Tepen toh akhirnya tetap berserah pada Tuhan.
Grace menulis, “…. Dan akhirnya Dia ingin kita mempuyai pengharapan di dalam Dia. Pengaharapan dan iman, bahwa Ia mengasihi kita and He’ll make everything beautiful than anyone can imagine :)….” Grace juga berkata, “….God, as usual… U’re my great big wonderful amazing God. Ini pujian yang dinaikkan di puing-puing reruntuhan impian, tapi seperti biasa You put a smile on my face :)….”
Kisah ini bukan hanya kisah Grace dan Tepen, tapi juga kisah Tuhan yang mempersatukan mereka. Masih banyak sekali hal yang menarik, yang haru, lucu, dan mengagumkan. Saat lamaran, persiapan pernikahan, bahkan dialog dua arah antara para penulis dengan Tuhan.
Apakah buku ini benar-benar sebegitu romantisnya? Kalau begitu baca saja, dan nilailah!
Aku benci harus menunggu. Ini sudah satu jam dan karenanya aku marah dan membatalkan janji untuk membeli buku kuliah bersama Tasya. Walaupun aku tahu ia sudah hampir sampai di tempat janjian kami.
Dua hari setelah itu, aku memohon agar Via memaafkanku. Via harus menungguku selama dua jam di tempat janjian kami.
—
Kekesalanku sudah sampai puncaknya. Ketiga kalinya aku harus menyelesaikan makalah proyek organisasi kampus. Padahal ini bukan bagianku. Orang-orang di organisasi ini benar-benar tidak bertanggung jawab!
Seminggu setelahnya, aku harus berangkat ke Bali untuk liburan keluarga. Mita menyelesaikan proposal kegiatan puncak akhir tahun. Mita adalah anggota seksi dokumentasi, dan aku sekretaris.
—
Apakah malam ini akan menjadi malam yang penuh air mata, lagi?! Mengapa aku selalu jatuh hati pada orang yang salah? Ben terlalu kejam karena tidak membalas sms-ku. Ia akan menjadi laki-laki terakhir yang membuatku patah hati, laki-laki terakhir yang padanya cintaku tak berbalas.
Dua bulan sebelumnya, aku menolak pernyataan cinta dari seorang penghuni kelas sebelah. Aku membentaknya di telepon karena ia terus menghubungiku. Aku malu ketika ia menyapa di depan kelasku dengan rambut belah tengahnya, dan aku membalas sapaannya dengan tatapan sejuta kebencian. Intinya, aku membelah hatinya menjadi beberapa bagian.
—
Aku terbahak karena Rio gagap di depan kelas dan presentasinya berantakan sekali. Semua orang di kelas tertawa, Pak Dosen juga. Jadi tidak ada yang salah dengan tawa membahana kami walau wajah Rio sudah merah dan tertekuk sangat dalam.
Aku sangat sangat sangat tidak suka kalau ada yang bicara saat aku sedang presentasi di depan kelas. Apalagi bila ada yang bercanda bahkan sampai tertawa!
Epilog
“Seringkali kita merasa bahwa kita adalah orang yang paling dirugikan dalam suatu keadaan. Terpikirkah bahwa kita pernah juga menjadi perugi bagi orang lain? Atau mungkin kita menjadi yang paling tersakiti. Apakah kita sendiri tidak pernah menyebalkan manusia lain? Lalu, mengapa kita suka sekali menghakimi sesama kita, manusia?
Lukas 6:31
Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.


Pada tahun 1968 diadakanlah lomba lari maraton di Mexico City. Perlombaan lari marathon ini diikuti dari berbagai negara-negara di dunia, dan tidak ketinggalan pula Tanzania mengutus seorang pelari bernama John Stephen Akhwari untuk ikut perlombaan lari marathon ini.
Perlombaan ini diikuti oleh sekitar seribu pelari dari berbagai negara. Tepat pada pukul 09:00 waktu setempat, dimulailah lomba lari ini. Para pelari dari berbagai negara memulai startnya dan langsung melesat dengan cepat. Semuanya berlari sekuat tenaga termasuk John Stephen Akhwari. Untuk sementara John menempati urutan terdepan.
Di tengah-tengah perlombaan, John Stephen Akhwari ini mengalami kecelakaan, dia terjatuh mengakibatkan kakinya terluka cukup parah hingga mengeluarkan darah, yang mengakibatkan dia harus berhenti dan harusnya dia nggak bisa melanjutkan perlombaan karena cedera kaki yang cukup serius. Saat John sedang berhenti, beberapa pelari dibelakangnya sedikit demi sedikit menyusul. Setelah beberapa lama, pelari 1,2,3,4 sampai 999 sudah sampe finish. Setelah dipastikan tidak ada yang akan memasuki finish lagi, para panitia menutup perlombaan kemudian dilanjutkan dengan acara penyerahan hadiah kepada para pemenang.
Karena perlombaan sudah selesai maka panitia mencabuti umbul-umbul dan alat-alat yang digunakan untuk menunjang perlombaan lari, para penontonnya pun juga sudah ada beberapa yang pulang, karena memang hari telah larut.
Tiba-tiba, tampak dari kejauhan terlihat ada seorang pelari yang tampak kelelahan tetapi tetap berjuang untuk berlari. Dia tampak kelelahan dan kesakitan. Dan ternyata pelari itu adalah John Stephen Akhwari yang di tengah perlombaan tadi terjatuh.
Dengan terseok-seok, dengan kaki terluka dan mengeluarkan darah dia terus berlari hingga akhirnya sampai finish.
Setelah sampe finish, dia banyak di kerumunin para wartawan, banyak kamera-kamera dari stasiun TV seluruh dunia meliputnya. Ada salah seorang wartawan bertanya ke dia “Kenapa kamu lanjutkan perlombaan ini? Jika kamu berhentipun pasti negara kamu akan memakluminya.” Tanya si wartawan itu.
lalu John Stephen Akhwari menjawab dengan lantang “SAYA DIKIRIM OLEH NEGARA SAYA BUKAN UNTUK MEMULAI PERLOMBAAN INI, SAYA DI KIRIM OLEH NEGARA SAYA UNTUK MENGAKHIRI PERLOMBAAN INI”.
Mantab guys, John Stephen Akhwari terkenal bukan karena dia berhasil menjuarai perlombaan tersebut, tetapi karena berhasil menyelesaikan hingga akhir apapun yang terjadi. Walaupun jadi yang terakhir, tetapi dia tetap memasuki finish. Cerita ini sudah pernah saya dengar sebelumnya, dah bahkan videonya-pun beredar luas di Youtube, tapi sekali lagi, kisah nyata ini kembali memotivasi saya dan memberikan saya pengertian untuk menyelesaikan hingga akhir. Setia hingga akhir. Jangan pernah menyerah dan mandek di tengah jalan, dan jangan mau dipengaruhi oleh kondisi.
Hal ini sungguh saya rasakan saat sedang berjuang untuk menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat kelulusan. Perjuangan yang saya lalui bukanlah hal mudah, sangat menyita tenaga, pikiran, waktu, kesehatan bahkan ongkos (hehehhe…), tetapi satu hal yang ada di pikiran saya adalah setia hingga akhir. setia untuk menikmati prosesnya, setia untuk “berlari” dan selalu bangkit di setiap kejatuhan saya. Dan akhirnya di batas terakhir pendaftaran sidang saya berhasil daftar sidang.
Pas banget… Indah pada waktunya
Kesetiaan, perjuangan dan kepercayaan akan selalu berbuah manis. Aku sungguh merasakan ayat favoritku membimbing setiap langkahku. Dan kedua ayat yang aku tulis di tugas akhirku, sebagai ayat kehidupan dan ayat kekuatan sungguh sangat kurasakan.
I have the strength to face all conditions by the power that Christ gives me
(Philippians 4:13)
He has set the right time for everything. He has given us a desire to know the future, but never gives us the satisfaction of fully understanding what he does.
(Ecclesiastes 3:11)
Aku percaya segala perkara dapat kutanggung di dalam DIA yang memberikan kekuatan kepadaku. Dan aku sangat yakin segala sesuatu indah pada waktunya. Dan semuanya ini dapat kulalui karena kupilih untuk tetap berlari dan kupilih untuk percaya penuh bahwa Yesus menyertai setiap langkahku saat kuberlari. Tetaplah berlari, karena hal itu tidak akan sia-sia.
…..Yesus kekuatan di hidupku
Jika mengampuni dan melupakan tidak datang dalam satu paket yang sama, maka itu belum bisa disebut pengampunan. Kemungkinan, Itu hanya paket basa-basi biasa agar segalanya terlihat baik-baik saja :)
Semudah apa?
Mengampuni sih gampang tapi melupakan kesalahan orang yang menyakiti kita?? No way!! Emangnya otak kita ini program komputer apa? Bisa segampang itu delete file kekecewaan.exe dan kumpulan-kejadian-buruk.zip?? Nyatanya saat kita mengampuni seseorang, kita masih bisa mengingat kejadian yang bikin kita sakit hati itu kan? Kecuali mungkin kalau kita mengalami amnesia karena kesenggol mobil atau tertimpa batu bata *ala sinetron Indonesia*. Hal ini wajar karena otak kita memang tidak didesain untuk semudah itu ‘lupa’ akan kejadian-kejadian signifikan dalam hidup kita. Dan karena kita tahu itu wajar tanpa kita sadari kita juga mewajarkan kata-kata “Gue udah mengampuni, tapi maaf, kalo untuk melupakan itu perkara yang berbeda.”
Melupakan terlihat seperti sesuatu yang mustahil dilakukan. Padahal melupakan dalam paket pengampunan itu artinya bukan melupakan kejadian tersebut tapi sebenarnya melupakan sakit hati yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut. Kita mungkin enggak akan pernah lupa teman yang mengucapkan kata-kata sindiran tajam ketika sedang bercanda, sahabat yang membocorkan rahasia kita ke seluruh kelas, kekasih yang tiba-tiba meninggalkan kita tanpa alasan, atau papa yang menampar kita di depan umum, tapi kita bisa memilih untuk melupakan sakit hati yang ditimbulkan oleh kejadian itu.
Apakah mudah? Enggak.. tapi kalau kita sudah memutuskan untuk mengampuni itu berarti kita mau melupakan sakit hati tersebut. Saat kita mau melupakannya, Roh Kudus yang akan selanjutnya membantu kita. Tetapi ketika menolak untuk melupakan dan bertahan dengan ego kita, maka tidak ada yang bisa memaksa kita. Kita yang sepenuhnya memutuskan. Jangan lupa kalau kekecewaan dan sakit hati itu sangat tajam, jika kita menggenggamnya terlalu erat, kita hanya akan melukai diri kita sendiri.
Untuk mereka yang bahkan tidak tahu…
Untuk saya pribadi, mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang dengan tulus minta maaf itu mudah! Yang sulit itu, jika orang yang menyakiti hati kita bahkan tidak tahu kalau mereka sedang menyakiti hati kita. Yang sulit itu, jika ada orang yang melakukan kesalahan tapi justru malah kita yang balik disalahkan dan dibenci. Yang sulit itu, jika kita mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang berpotensi melakukan kembali kesalahan yang sama!!
Terus gimana dong? Sampai kapan kita harus terus menerus mengampuni orang? Sabar kan ada batasnya!
Waktu Petrus nanya ke Tuhan “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat 18:21) Dan jawaban Tuhan Yesus sangatlah mencengangkan! “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat 18:22) pastinya Petrus waktu itu langsung bengong karena enggak nyangka dapet jawaban yang berlipat kali ganda^^
70×7 bisa merupakan kiasan yang digunakan Yesus untuk menunjukkan bahwa kita harus mengampuni orang dengan tidak terbatas. Tapi kalaupun seandainya kita hitung secara harfiah 70×7 itu berarti 490 kali! Tetap merupakan jumlah yang sangat banyak, karena biasanya sesabar-sabarnya kita paling hanya mau mengampuni orang 3-4 kali. Di sinilah Tuhan Yesus mau mengubah pandangan Petrus dan tentu saja pandangan kita, kita selalu berpikir bahwa pengampunan itu ada batasnya, tapi yang Yesus mau bilang – pengampunan adalah sebuah proses yang terus-menerus, pengampunan adalah komitmen, pengampunan adalah keputusan untuk tetap mengampuni bahkan ketika yang orang yang kita ampuni berpotensi untuk melakukan kesalahan yang sama berulang kali.
Tuhan Yesus tahu kalau itu sulit bagi kita, tapi Dia pun tahu ketika kita mengambil keputusan untuk mengampuni dan melupakan kesalahan orang yang bahkan tidak tahu bahwa mereka menyakiti hati kita atau mereka yang tidak pernah meminta maaf untuk hal itu maka karakter kita akan semakin disempurnakan, kita akan belajar level baru dari kerendahan hati. Dan jauh di atas segalanya Dia tahu bahwa kita akan menjadi lebih berbahagia. Dia tidak memberikan perintah mengampuni berulang kali untuk menyiksa kita tapi justru karena Dia ingin kita berhenti menyakiti diri sendiri. Karena Dia terlalu mencintai kita dan tidak ingin melihat kita menderita.
Memilih untuk tidak mengampuni membuat kita berhenti, berhenti untuk merasakan sukacita. Memilih untuk tidak melupakan sakit hati membuat kita lelah, lelah karena harus menanggung rasa pahit. Tapi memilih untuk melepaskan pengampunan berarti memberikan bagian terbaik dari hati kita untuk ditempati oleh Kristus.